Rabu, 27 April 2011

Hati yang Sedih




Semu yang ku dapati saat ini sangat menyesakkan dada, jiwa bagai tercabut karena marah, kecewa dan duka. Yang ku lakukan itu sia-sia, berjalan tanpa arah dan kini sendirian. Kupu-kupu tak mau bermain lagi denganku, seseorang dengan kisah pilu yang merangkul sisa-sisa pedih yang teriris tipis dan berdarah. Aku mulai berjalan gontai memaki jeripayah seseorang yang tersakiti atas semua sikapku selama ini. Aku tak paham akan yang aku cari, pernah berfikir menghindar lari menjauh dari luka dan duka yang aku alami. Menepis semua bayanganmu yang bergelayut di fikiranku selama ini, akankah kucari seseorang yang pernah singgah di hati yang terluka oleh kasmaran sesaat.

Pernahkah kau berfikir akan sesuatu kesepian dan kesendirian? Dapatkah kau menikmatinya dengan ucapan-ucapan manis dari seseorang yang menggoda? Rasa itu mulai sirna seiring duka yang mendalam yang kau rasakan dengan kecupan-kecupan tajam yang membabi-buta, menyayat hati kecil hingga sakit dan berujung kecewa. Sadarkah kau yang terluka itu hati seseorang yang lembut, penuh dengan kekecewaan ketika kau mulai meninggalkannya . . .

Ada langkah-langkah kecil, coba kau bayangkan . . . Ada senyuman pilu juga menyertakan gerak tubuh yang gontai berjalan menuju tempat dimana ia akan terkulai jatuh tak berdaya. Mungkin dia bermukim di sebuah hati, padang rumput yang hijau dengan semilir angin yang begitu sejuk. Aku membayangkan tempat itu indah ada tiga bukit di sana, banyak kupu-kupu yang berwarna-warni terbang di situ pula ada rumpunan bunga-bunga cerah warnanya dan tidak lupa sebuah pohon besar yang rimbun dengan ayunan kayu yang terikat kuat. Tidak jauh dari sana ada sebuah danau dengan nyanyian katak serta ikan-ikan kecil yang akan menemani. Ada satu perahu kecil di pinggir danau, perahu itu terbuat dari kayu cemara yang banyak tumbuh. Betapa indah pemandangannya itulah gambaran isi. Namun siapa mengira apapun yang ada tak membuat hati cerah seperti dulu.

"Wahai hujan bawalah kesejukan yang lebih sejuk dari ini, aku ingin merasakan kesejukkan yang lebih sejuk untuk siraman hatiku yang panas terbakar karena seseorang" Dengan gontai dan beraut sedih, ia menuju ayunan kayu. Ayunan yang selama ini dapat menghiburnya bila sedang membutuhkan semangat.

Berayun rupanya tak juga membuat hatinya senang, ia masih teringat pada seseorang yang melukai hatinya. Jerit tangis di dalam hatinya, namun yang keluar hanya gambaran kesedihan kosong di matanya. Kisah ini teragis dan aku masih menunggu lanjutannya . . .

Tidak ada komentar: